Alquran antara Pengetahuan, Realita dan Rasionalitas

Ahmad Arinal Haq
0
Alquran sebagai kitab suci terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sesungguhnya mengandung ajaran suci tentang tuhan dan agama. Selain itu juga mengandung kemukjizatan yang memuat berbagai teori kebenaran secara ilmiah dan selaras dengan perkembangan zaman. Hal ini tentu saja, sayangnya, hal ini hanya bisa diterima oleh mereka yang meyakini kebenaran Alquran itu sendiri. Padahal banyak hal yang secara logika maupun temuan ilmuwan kini terbukti dengan rahasia dalam kalimat-kalimat Alquran.
Dengan kehadiran sang Madinatul ilmi yakni Rasul Muhammad SAW, sejak awal Islam sudah memberikan perhatian yang besar kepada ilmu pengetahuan. Bahkan Alquran secara tegas mengatakan bahwa tidaklah sama antara orang yang mengetahui (berilmu) dan orang tidak mengetahui (tidak berilmu). Hal ini dapat dibaca dalam Alquran, tepatnya surah Az-Zumar ayat 9:

 قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ الْأَلْبٰبِ

Artinya : Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. 39: 9).


Terdapat dalam Alquran tantangan bagi manusia untuk menggunakan kekuatan rasionalnya guna melihat fenomena alam semesta, bahwa alam ini tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi memang ada Dzat Maha Pemilik Kekuatan yang menciptakan. Manusia hanya dapat mempelajarinya, tidak dapat menciptakannya namun masih saja menolak Allah.
Allah menyindir manusia yang bahkan tidak dapat menciptakan seekor nyamuk saja. Teknologi manakah yang mampu menciptakan nyamuk, lalat, dan binatang melata lainnya? Alquran dalam surah Al-Baqarah ayat 26:

إِنَّ اللهَ لَا يَسْتَحْىِۦٓ أَن يَضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ اللهُ بِهٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرًا وَيَهْدِى بِهِۦ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا الْفٰسِقِينَ

Artinya : Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: 'Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (QS. 2: 26)

Huruf ta' lil-ifrod ( ة ) dalam Kalimah بَعُوضَةً menunjukkan makna singular (tunggal) berarti satu/ seekor nyamuk yang kian menunjukkan betapa lemahnya manusia yang nyatanya sok dan sombong namun tidak kuasa menciptakan seekor nyamuk saja.
Bahwa manusia itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah dalam Alquran. Mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menciptakan alam semesta, termasuk menciptakan makhluk kecil seperti nyamuk sebagai perumpamaan.
Sesungguhnya manusia diciptakan dengan memiliki kekuatan akal dibandingkan dengan makhluk lainnya, maka menjadi tugas manusialah untuk menangkap petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Allah, dengan tujuan untuk mendayagunakan bagi kemaslahatan hidup.

Wallahu A'lam

Ilustrasi oleh Freepik

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)