- Akidah,
- Syariat, dan
- Akhlak.
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ
تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat” (Ibrahim/14:24-25)
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah. Oleh karenanya, akidah menjadi modal awal manusia untuk dapat melaksanakan aturan Allah tersebut. Akidah adalah keyakinan yang harus dibangun dan dikuatkan oleh setiap individu umat muslim. Saat akidah ini sudah kuat maka akan memunculkan loyalitas tanpa pamrih kepada Allah. Pembahasan akidah erat kaitannya dengan bagaimana manusia memiliki konsep ketuhanan.
Akidah
Dalam Islam, pentasbitan akidah dalam hati diucapkan secara lisan melalui syahadat yang menggunakan diksi Asyhadu. Dalam bahasa Indonesia kata itu bermakna “bersaksi” yang biasanya lekat dengan kegiatan penginderaan. Maka muncullah pertanyaan: bagaimana kita bersaksi kepada Allah padahal kita tidak pernah melihatnya? Maka muncullah kaidah:
من عرف نفسه عرف ربه
“Barang siapa mengerti dirinya sendiri, maka dia akan mengerti siapa Tuhannya”
Dalam ilmu akidah, konsep ketuhanan tidak dapat ditemukan hanya dengan menggunakan akal logika tanpa menggunakan wahyu. Hal ini dikarenakan keterbatasan yang dimiliki oleh akal itu sendiri. Sayyidina Abu Bakar mengajarkan faidah والعجز عن درك الادراك ادراك yang kemudian dibuat menjadi syiir
لايعلم الله الا هو فانتبهو # الدين دينان ايمان واشراك
وللعقول حدود لا يجاوزها # والعجز عن درك الادراك ادراك
Maksudnya, tidak ada yang mengetahui tentang Allah kecuali Allah sendiri. Hal ini perlu diimani, karena akal logika tidak akan pernah sampai pada tahap konsep ketuhanan yang sejati dikarenakan perbedaan realitas yang ada. Manusia merupakan realitas makhluk atau emanen yang bisa diindra dan dapat dinalar. Sedangkan Allah merupakan realitas transendental, yakni realitas yang tidak dapat diindra, dan tidak dapat dilogikakan.
Karena keterbatasan logika akal ini menjadikan segala yang dibayangkan manusia tentang Allah maka secara langsung hal tersebut bukanlah Allah, dikarenakan masih masuk dalam logika akal itu sendiri. Di sini peran wahyu (al-Qur’an) menjadi penting untuk membuat manusia percaya tentang ke-ada-an Allah. Dalam alQur’an, ayat yang terkait mengenai ketuhanan atau akidah seringkali bersifat tsawabit (teks wahyu yang penafsirannya tunggal dan tidak dapat ditarik kemana pun). Peran dari teks suci atau wahyu, khususnya al-Qur’an ialah menjadi pembimbing manusia agar bisa menemukan dan meyakini adanya Allah SWT.
Syariat dan Akhlak
Konstruksi yang kedua adalah Syari’at yang diibaratkan dahan pohon. Syariat ini berfungsi untuk mengontrol dan mengatur kehidupan manusia di dunia. Dengan Syari’at manusia dapat menjadi orang yang tertib dalam berkehidupan di dunia. Syariat merupakan sebuah konsep global di mana dari Syariat ini akan melahirkan Fiqih di tangan para mujtahid. Konstruksi yang ketiga adalah Akhlak yang di mana pada ayat tersebut diibaratkan sebagai buah yang muncul dari dahan pohon tersebut. Akhlak dalam penyebutan al-Qur’an sering menggunakan diksi “amilus sholihaati” yang banyak disandingkan dengan kata “aamanuu”. Dari sini bisa dipahami bahwa keimanan dan keyakinan yang dibarengi dengan Syariat akan melahirkan perilaku kebajikan yang disebut dengan Akhlak.
al-Qur’an dalam banyak kesempatan menyandingkan diksi amal saleh dengan keimanan. Amal saleh dalam al-Qur’an banyak diartikan sebagai akhlak yang mulia. Keterhubungan antara iman dan akhlak mulia ini menunjukkan bahwa keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisah selayaknya akar, cabang, dan buah.
Salah satu contoh Akhlak yang digambarkan dalam al-Qur’an adalah memanusiakan manusia. Dalam al-Qur’an surat al-Isra’ ayat 70 berbunyi:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلا
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (Al-Isra'/17:70)
Ayat tersebut menggunakan diksi “bani adam”, yang berarti seluruh manusia tanpa membedakan agama, ras, suku, dan lainnya. Di masa sekarang, perbedaan agama sering menjadi pemicu konflik dalam menjalani kehidupan. Hal ini terjadi karena kesalahan dalam memahami keislaman dan juga tentunya keterpengaruhan dari sumber pemahaman yang salah.
Tentunya bahwa maju-mundurnya Islam tidak ditentukan dari ajaran Islamnya, karena ajaran Islam bisa dipastikan baik. Keberlangsungan Islam sesungguhnya dipegang oleh pemilik dari pemahaman keislaman itu sendiri, sehingga menjadi penting bagi para guru, mubaligh dan para tokoh Islam untuk menunjukkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Al Habib Umar bin Hafidz berkata, "Orang yang tinggi adab walaupun kekurangan ilmu lebih mulia dari orang yang banyak ilmu tetapi tidak memiliki adab." Imam Syafi'i pula tentang adab dan akhlak: "Jadikanlah ilmu itu adalah garam, sedangkan adab dan akhlak seperti tepung. Dalam artian orang memasak pasti mereka lebih banyak akan tepungnya bukan garamnya."
Akhlak Kemanusiaan
Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad sendiri pernah mencontohkan kepada para Sahabat mengenai akhlak kemanusiaan ini. Suatu saat jenazah seorang Yahudi dibawa dan melewati Nabi dan para sahabat yang sedang duduk. Ketika mengetahui jenazah tersebut, Nabi pun berdiri dengan maksud memberikan hormat. Para sahabat pun heran dan mempertanyakan perihal yang dilakukan Nabi tersebut. Nabi Muhammad pun menjawab “Bukankah dia manusia?” Hal ini pun kembali dilakukan Nabi saat ada jenazah Nasrani yang melewati beliau. Selain perbedaan agama, contoh akhlak lain dalam memanusiakan manusia adalah meniadakan kasta dan meyakini bahwa posisi manusia di dunia semuanya setara sebagai makhluk Allah.
Kasus kesenjangan kasta yang paling umum terjadi adalah antara si kaya dan si miskin. Seringkali seseorang akan lebih banyak loyal dan mendekat kepada orang kaya daripada berbaur dengan fakir atau miskin. Hal yang perlu disadari adalah bahwa fakir atau miskin dalam Islam memliki posisi yang mulia. Bahkan Nabi sendiri pun menganjurkan untuk memperbanyak berkumpul dengan orang fakir. Hal ini selain agar kita dapat membantunya, tentu juga akan meningkatkan rasa syukur dengan apa yang telah dimiliki sekarang.
أكثروا معرفة الفقراء واتخذوا عندهم الأيادي فإنّ لهم دولة فقالوا يا رسول الله وما دولتهم قال : إذاكان يوم القيامة قيل لهم : انظروامن أطعمكم كسرة او سقاكم شربة او كساهم ثوبا فخذوا بيده ثم امضوا إلى الجنة
“Perbanyaklah untuk mengenal orang fakir, dan bantulah mereka karena mereka adalah kelompok yang memiliki kekuasaan. Para sahabat bertanya: ya Rasul apakah kekuasaan mereka? Rasul menjawab: kelak di hari kiamat dikatakan kepada mereka lihatlah! siapakah yang pernah memberikan kepadamu sepotong roti atau seteguk minuman atau selembar pakaian, maka peganglah tangan mereka dan tuntunlah mereka menuju surga.”

