Tawakkal merupakan salah satu sikap yang diperintahkan dalam al-Qur’an (QS. Hud: 123).
فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ
"Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya"Habib Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad menjelaskan dalam kitabnya Nashaihud Diniyyah yang merupakan ikhtisar dari kitab Ihya’ Ulumiddin bahwa salah satu sifat yang dapat menyelamatkan diri seseorang hamba adalah tawakkal atau berpasrah diri. Banyak sekali di zaman sekarang orang-orang yang memiliki masalah dalam kehidupannya karena tidak tahu cara menjalani hidup yang baik. Tugas seorang hamba adalah berikhtiar dengan melaksanakan pekerjaannya dengan baik disertai tawakkal, memasrahkan urusan kepada Azza wa Jalla. Bersikap tawakkal harus sesuai dengan konsep yang dijelaskan oleh para ulama’:
الجارحة تعمل والقلوب تتوكل
“Anggota badan (ikhtiar) melaksanakan tugas-tugasnya sedangkan hati pasrah (kepada Allah).”
Dengan demikian seorang hamba harus melaksanakan tawakkal sesuai konsep yang benar yaitu memasrahkan urusan kepada Allah disertai dengan ikhtiar atau usaha-usaha yang dapat dilakukan. Sederhananya, hidup itu harus dijalani tapi jangan lantas merasa bisa. Tawakkal bukan berarti tidak kerja, bukan berarti tidak memikirkan perencanaan dan strategi. Tetap secara fisik kita kerja, akal merencanakan dan mengatur strategi, tetapi hati tawakkal kepada Allah, berharap kepada Allah seakan-akan kita tidak memiliki kekuatan apa-apa selain mengharapkan dari Allah SWT.
Konsep tawakkal ini sebagaimana kisah yang diabadikan menjadi salah satu rangkain ibadah Umrah dan Haji. Dalam Umrah dan Haji ada yang namanya Sa’i, yaitu berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali perjalanan dari bukit Shafa ke bukit Marwa. Sa’i ini merupakan bentuk sikap tawakkal-nya Siti Hajar yang merupakan ibu dari Nabi Ismail saat kebingungan mencari air untuk putranya. Tawakkal beliau disertai dengan ikhtiar, yakni berlari kecil sebanyak tujuh kali dari bukit shafa ke bukit marwa untuk mencari air.
Pada akhirnya, atas kehendak Allah air yang dicari itu keluar dari hentakan kaki Nabi Ismai’il. Dengan demikian, tugas seorang hamba adalah ikhtiar, sementara hasil akan ditentukan oleh Allah SWT. Dan Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Oleh karena itu ikhtiarlah dengan maksimal seakan-akan ikhtiar adalah segalanya dan ber-tawakkal-lah dengan sungguh-sungguh seakan-akan kalian tidak punya apa-apa.
Sikap tawakkal juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad saat perang Badar yang terjadi tepat di bulan Ramadlan. Bermula saat Rasulullah dan sahabatnya yang berjumlah 313 orang ingin menghadang kafilah dagang dan bukan untuk niat berperang. Oleh karena itu mereka tidak membawa perlengkapan perangnya. Namun kafilah dagang itu akhirnya lolos dan datanglah 1000 orang kafir Makkah yang menyerang. Para sahabat pun merasa ketakutan, sekan-akan mereka digiring menuju kematian. Begitu berat yang dihadapi para sahabat. Akhirnya, setelah berunding dengan Rasul mereka pun siap berperang melawan orang kafir.
Sehari sebelum berperang, Rasulullah sudah mengetahui bahwa nantinya perang akan dimenangkan oleh orang Islam. Akan tetapi Rasulullah tidak meninggalkan ikhtiar dengan mengatur strategi dan siasat perang dengan matang. Pada malam harinya Rasulullah pun tawakkal dengan berdo’a mengangkat kedua tangan beliau dan tubuhnya bergetar hingga selendangnya jatuh.
Do’a Rasulullah dikabulkan oleh Allah dan turunlah pertolongan dari-Nya berupa pasukan malaikat yang dipimpin oleh Malaikat Jibril dan akhirnya perang dimenangkan oleh kaum muslimin. Allah juga memerintahkan tawakkal dalam QS. Ali Imron ayat 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal”
Tawakkal pun diperintahkan oleh Rasullullah. Saat beliau ditanya oleh seorang sahabatnya. “Wahai Rasulullah! Apakah unta ini aku biarkan?”. Nabi menjawab: “Ikatlah untamu dan bertawakkallah!”. Artinya, sikap tawakkal harus dimulai sejak langkah awal saat memulai ikhtiar. Dengan demikian perlu ditekankan bahwa usaha tanpa do’a adalah kesombongan, sedangkan do’a tanpa usaha adalah kebohongan.
