Membaca Alqur'an sebagai Ibadah dan Nikmat dari Allah

0

 

Ibadah membaca Al-Quran merupakan salah satu ibadah yang sangat ditekankan dalam agama Islam. Al-Quran adalah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia. Membaca Al-Quran bukan hanya sekadar membaca huruf dan kata-kata, tetapi juga merupakan bentuk ibadah yang mendalam yang dapat mendatangkan berbagai kebaikan dan pahala.
Ibadah membersamai al-Qur’an merupakan ibadah yang baik karena Alqur'an adalah kitab yang ditrunkan sebagai petunjuk, maka sebaik-baik teman adalah teman yang menujukkan kepada kebaikan. Caranya bisa dengan memperbanyak membaca al-Qur’an dan memperbanyak mendengarkan tilawah al-Qur’an. Bersama dengan al-Qur'an ini merupakan hal agung dan merupakan nikmat yang diberikan Allah kepada umat Islam. Hal ini diungkapkan oleh Abul Abbas Al Mursi seorang murid dari Abul Hasan As-Syadzili:

قليل من العمل بشهودالمنة أفضل من كثير من العمل مع رؤية التقصير بنفسه

“Sedikitnya amal dengan memandang nikmat (pemberian Allah) lebih utama daripada banyaknya amal dengan memandang kekurangan-kekurangan dalam amal tersebut”. 

Yang pelu dicatat adalah bahwa seseorang yang membaca atau mendengarkan bacaan al-Qur’an dengan dilandasi pikiran bahwa hal tersebut merupakan nikmat serta pikiran positif kepada Allah lebih utama daripada beramal dengan disertai kekurangan-kekurangan dalam amal tesebut yang dapat merusak. semisal sifat sum’ah, riya’, beramal bukan karena Allah dan lain sebagainya. Misalnya, dalam menghadiri majlis pengajian, berpuasa atau membayar zakat, terkadang di dalam hati tergerak adanya suatu pertanyaan, "apakah amal ini diterima atau tidak? Amal ini sudah sesuai aturan apa belum? Amal ini apakah karena Allah atau bukan? Menurut Imam Abdullah al-Haddad, amal yang baik adalah ketika seseorang dapat melaksanakan amal ibadah dengan gembira karena merupakan wujud kenikmatan dari Allah. Saat seseoang beramal ada harapan positif di benak seseorang bahwa amal yang dilakukan akan mendapatkan ridho dari Allah SWT serta di benaknya husnuddhoz terhadap Allah SWT.
Namun demikian, anggapan adanya kekurangan saat beramal tersebut terkadang memiliki nilai positif. Misalnya dalam beramal tergerak hatinya untuk riya’ atau hal-hal yang merusak amal lainnya. 
Ada satu kisah ulama’ saat membangun pondok pesantren. Saat itu dari hati ulama terbesit Apakah amalku ini karena Allah atau selain Allah? Kemudian beliau tertidur dan bermimpi didatangi seseorang. Dalam mimpi tersebut orang itu berkata, “Jika amalmu bukan karena Allah, tetap ada nilai kebaikannya. Bisa jadi do’a para santri yang berada di pondokmu diijabahi Allah dan mendoakanmu mendapatkan Ridlo Allah SWT”. Ini sama misalnya seseorang yang hadir ke majelis ilmu dengan memakai pakaian yang bagus karena ingin mendapat pujian dari orang lain. Di sisi lain terkadang ada orang yang senang dan bersyukur melihat seseorang yang datang ke majelis ilmu dengan pakaian yang bagus dan indah. Rasa senang dan syukur ini kemudian menggerakkan dirinya untuk mendoakan orang yang memakai baju bagus dan indah tersebut supaya mendapat ridlo Allah swt. Meskipun ada kekurangan dalam amal tersebut, tetapi tetap memiliki nilai positif. 
Nabi Muhammad mempraktekkan membaca al-Qur'an dengan nikmat dan gembira, bahkan dalam bulan Ramadlan Nabi kebih sering membaca al-Qur’an dan Malaikat Jibril menyimaknya. Inilah yang kemudian disebut sebagai metode mudarasah al-Qur’an, yakni metode membaca al-Qur’an secara berkelompok, salah seorang membaca dan yang lain mendengarkan. 
Selain itu, Nabi juga menyimak bacaan al-Quran dari sahabat lain dan mendengarkan dengan penuh khidmat. Pernah Rasulullah ingin mendengarkan bacaan al-Qur’an dari salah seorang para sahabat. Satu contoh saat itu Rasulullah memerintahkan Abdullah bin Mas’ud (dalam riwayat lain, Amr bin Muroh) untuk membacakan al-Qur’an, surat An Nisa: 41

فَكَيْفَ اِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ اُمَّةٍۢ بِشَهِيْدٍ وَّجِئْنَا بِكَ عَلٰى هٰٓؤُلَاۤءِ شَهِيْدًاۗ

“Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka” (QS. An-Nisa':41). Sesaat setelah sahabat membacanya, Rasul mendengarkan, lalu tepat di ayat tersebut Rasul memerintahkan untuk berhenti, dan Abdullah bin Mas’ud melihat Nabi menitikkan air mata. Cerita ini bukti sebuah atsar dari al-Qur’an yang jika dibaca atau didengarkan dengan sungguh-sunguh akan membuat hati tersentuh. 

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)