Khidmat Berdzikir Memakai Tasbih

Ahmad Arinal Haq
0

Dzikir merupakan bentuk ibadah yang fleksibel karena dapat dilakukan dimana saja dan dengan cara apa saja. Ada yang berjamaah, ada yang sendirian dengan khusuknya. Berdzikir juga ada yang bebas tanpa hitungan, namun ada pula yang dibatasi dengan jumlah karena mawarid sesuai ajaran, thoriqoh dan fadhilah.
Menambah khusuk dalam berdzikir, sering kita menggunakan alat berupa tasbih untuk membantu mengingat dan membatasi jumlah dzikir yang telah kita baca. Apakah boleh menggunakan tasbih?
Diantara dalil dianjurkannya memakai tasbih yaitu sabda Rasulullah ﷺ :

عليكم بالتسبيح والتهليل والتكبير، واعقدن بالانامل، فانهن يوم القيامة مسئولات مستنطقات، ولا تغفلن ..... فتنسين الرحمة


Artinya : Perbanyaklah bertasbih, bertahlil, dan bertakbir, dan hitunglah dengan jari-jari kalian, karena jari-jari tersebut akan datang di hari kiamat untuk ditanya dan menjawab, dan janganlah kalian lalai dari berdzikir niscaya kalian akan lupa atas rahmat. (HR.Ibnu Syaibah)
 
Dalam hadits lain riwayat Imam Dailami disebutkan

نعم المذكر ...... السبحة

Artinya : Sebaik-baiknya pengingat (bagi hamba agar selalu berdzikir) adalah tasbih. (HR. Dailami)
 
Ini tentu bukan merujuk kepada kewajiban menggunakan tasbih, karena berdzikir menggunakan hitungan jari, batu, biji dan media lain juga dibolehkan. Lalu timbul pertanyaan, manakah yang lebih utama dalam berdzikir, mengitungnya dengan jari tangan kanan atau tangan kiri?
Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama' mengenai masalah ini, sebagian berpendapat yang lebih utama adalah menggunakan jari-jari tangan kanan saja, dan sebagian lain berpendapat menggunakan tangan kanan atau tangan kiri sama-sama di perbolehkan.
Diriwayatkan dalam hadits:

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنه قال : رايت رسول الله ﷺ يعقد التسبيح بيمينه -{رواه البيهقي في السنن الكبرى}

Artinya: "Hadits dari Abdullah bin Amr, ia berkata:"Aku pernah melihat Nabi Muhammad menghitung bacaan tasbih dengan tangan kanan" 

Hadits ini dikomentari oleh Imam Ibnu Hajar swbagai berikut

قال الامام ابن حجر : وهذا يشمل انامل كل من اليمين والشمال، فاما ان يحمل على ما يوافق الاول،اي بانامل اليمين، او ذاك لبيان الافضل، وهذا لبيان ما يحصل به اصل السنة. {القرطاس}

Artinya: "hal ini mengandung makna bahwa tangan kanan yang dimaksud adalah jari-jari di tangan kanan baik kiri, tetapi atas dasar hadits di pembahasan awal maka menggunakan jari-jari tangan kanan. Hal ini untuk penjelasan keutamaan mana yang lebih baik, dan penjelasan agar dapat sesuai dengan tuntutan perilaku Nabi."

Lalu bagaimana dengan "tasbih"? Muncul pertanyaan, lebih utama menggunakan jari-jari tangan atau menggunakan tasbih?
Terdapat perbedaan ulama mengenai hal ini, sebagian ulama' berpendapat : yang lebih utama adalah menggunakan jari-jari tangan, dan sebagian lain berpendapat : jika sekiranya tidak takut terjadi kesalahan dalam menghitung jumlah dzikir, maka yang lebih utama adalah menggunakan jari-jari, adapun jika takut terjadi kesalahan dalam hitungan, maka yang lebih utama adalah menggunakan tasbih.
Dalam kitab "Al-Qirtos" dijelaskan :

[ قيل : عقد التسبيح بالانامل ..... افضل من السبحة، قيل : ان امن الغلط ...... فهو الاولى، والا فهي اولى.] {القرطاس}

Artinya : "menghitung bacaan tasbih dengan jari lebih baik dari pada memakai alat tasbih

Namun bukannya tidak boleh memakai tasbih, bahkan dalam sejarah salafus sholih memakai tasbih dalam kegiatan ibadah dzikir.
Diantara sahabat Rasulullah ﷺ yang memakai tasbih :

  1. Sayyidatuna Shofiyyah istri Rasulullah ﷺ memiliki 4000 biji kurma yang digunakan untuk berdzkir.
  2. Sayyiduna Abu Huroiroh memiliki tasbih yang berjumlah 1000 biji, dan beliau tidak tidur setiap malamnya kecuali telah berdzkir sebanyak 12.000 kali.
  3. Sayyiduna Abdulloh Bin Umar Bin Khottob memiliki sekantong biji kurma, dan setiap selesai sholat dhuhur beliau berdzikir menggunakan biji kurma tersebut satu persatu sampai selesai.a
  4. Sayyiduna Sa'ad Bin Abi Waqqos,beliau bertasbih dengan menggunakan batu-batu kecil.

Hendaknya ketika menggunakan tasbih kita niatkan untuk mengikuti jejak salafus sholeh, dan juga meniatkan agar bisa berdzikir dengan lisan, tangan dan hati, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Al-Imam Hasan Al-Bashri yang dinukil dari kitab Al-Mausuah Al-Yusufiyyah. Ketika Imam Hasan Al-Bashri ditanya kenapa beliau menggunakan tasbih? :

《هذا شيء كنا استعملناه في البدايات ... ما تركناه في النهايات، اني احب ان اذكر الله بقلبي ويدي، ولساني》 الموسوعة اليوسوفية

Artinya : "ini (tasbih) adalah hal yang kita lakukan dahulu, kita tidak akan meninggalkannya sekarang hingga kelak. Aku lebih suka berdzikir dengan hatiku, tanganku dan lisanku" 

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)