![]() |
| Penampakan Matahari terbit dari ISS. Foto oleh Bob Behnken |
Dalam fisika, suatu Orbit atau Garis edar adalah jalur yang dilalui oleh objek, di sekitar objek lainnya, di dalam pengaruh dari gaya gravitasi. Gravitasi melengkungkan ruang layaknya bola melengkungkan karet dan membuat benda di sekitarnya bergerak lurus di area lingkaran. Orbit pertama kali dianalisis secara matematis oleh Johannes Kepler yang merumuskan hasil perhitungannya dalam hukum Kepler tentang gerak planet. Dia menemukan bahwa orbit dari planet dalam tata surya kita adalah berbentuk elips dan bukan lingkaran atau episiklus seperti yang semula dipercaya. Ilustrasinya dapat dilihat dari gambar disamping
Isaac Newton menunjukkan bahwa hukum Kepler dapat di turunkan dari teori gravitasi. Pada umumnya, gerak benda dalam lingkup pengaruh gravitasi merupakan lintasan yg berbentuk irisan kerucut. Newton kemudian menunjukkan bahwa sepasang benda akan saling mengitari dengan jarak yang berbanding terbalik dengan massanya dan sekitar titik pusat massa (t.p.m.) gabungan dari kedua benda tadi. Bila salah satu benda jauh lebih besar (massive) dari yang satunya, maka t.p.m. nya akan mendekati t.p.m. benda yg lebih besar tadi.
Alquran dalam Surat Adz-Dzariyaat menyebutkan
ÙˆَالسَّÙ…َآءِ ذَاتِ الْØُبُÙƒِ
“Dan langit yang memiliki jalan-jalan (QS. Adz-Dzariyaat : 7)
Perhatikanlah ayat di atas, yang tegas mengatakan langit memiliki al-Hubuk ØُبُÙƒ, yang berarti "jalan-jalan". Secara leterlek dapat dikatakan bahwa lafal Al-Hubuk adalah bentuk jamak dari Habiikah ØØ¨ÙŠÙƒØ© , sama halnya dengan lafal Thariiqah طريقة yang bentuk jamaknya Thuruq طرق , yakni sejak ia diciptakan mempunyai jalan-jalan, sebagaimana jalan di padang pasir.
Dalam ayat lain Allah berfirman
"Demi bintang ketika terbenam." (QS. An-Najm: 1)
Bintang yang terbenam bukan berarti bintang yang hancur dan tiada, melainkan bergerak menuju titik yang tersembunyi, sehingga tidak bisa teramati. Tetapi, apabila bintang itu muncul, maka ia akan tampak kembali, dan oleh pengamat di bumi, kemunculan bintang tersebut dianggap galaksi baru atau tepatnya baru ditemukan.
Perhatikanlah ayat di atas, yang tegas mengatakan langit memiliki al-Hubuk ØُبُÙƒ, yang berarti "jalan-jalan". Secara leterlek dapat dikatakan bahwa lafal Al-Hubuk adalah bentuk jamak dari Habiikah ØØ¨ÙŠÙƒØ© , sama halnya dengan lafal Thariiqah طريقة yang bentuk jamaknya Thuruq طرق , yakni sejak ia diciptakan mempunyai jalan-jalan, sebagaimana jalan di padang pasir.
Dalam ayat lain Allah berfirman
ÙˆَالنَّجْÙ…ِ Ø¥ِذَا Ù‡َÙˆَÙ‰ٰ
"Demi bintang ketika terbenam." (QS. An-Najm: 1)Bintang yang terbenam bukan berarti bintang yang hancur dan tiada, melainkan bergerak menuju titik yang tersembunyi, sehingga tidak bisa teramati. Tetapi, apabila bintang itu muncul, maka ia akan tampak kembali, dan oleh pengamat di bumi, kemunculan bintang tersebut dianggap galaksi baru atau tepatnya baru ditemukan.
Alquran Telah Sebutkan Hal Astronomi
Ketika Alquran diturunkan, manusia telah mempelajari kehadiran dan kegunaan bintang, baik untuk penanda arah/ jalan maupun penanda masuknya musim. Saat itu, manusia belum bias mengobservasi bebintang dengan jelas, dan hanya menggunakan penanda saja. Namun Alquran dengan tegas menunjukkan bahwa:bintang-bintang yang terlihat di angkasa raya sejatinya bergerak, sesuai dengan QS. An-Najm: 1.
bintang-bintang memliki jalan/ perlintasan atau dalam ilmu astronomi disebut orbit, sesuai dengan QS. Adz-Dzariyat: 7Allah tidak hanya menunjukkan kepada manusia tentang sifat bintang yang memiliki orbit, namun dalam kedua ayat itu Allah juga menjadikannya sebagai sumpah, sama halnya sumpah-sumpah lain dalam Alquran terhadap benda-benda ciptaan Allah SWT yang menakjubkan seperti waktu fajar (QS. Al-Fajr: 1), waktu malam (QS. Al-Lail: 1), Angin (QS. Adz-Dzariyaat: 1), Buah Tin dan Zaitun (QS. At-Tiin: 1)
Manusia dengan akal yang dibangga-banggakan baru dapat menguak fakta tersebut sejak dilakukan pengamatan terhadap rotasi bintang, yakni abad ke-20
- Pada 1944, Hendrik van de Hulst memperkirakan akan adanya radiasi gelombang mikro dengan panjang gelombang 21 cm yang berasal dari gas antarbintang yang berisi atom hidrogen; radiasi ini diamati pada 1951. Radiasi ini memungkinkan penelitian yang jauh lebih baik terhadap galaksi bima sakti, karena radiasi tersebut tidak terpengaruh penyerapan oleh debu antarbintang, dan pergeseran Doppler-nya dapat digunakan untuk memetakan pergerakan gas tersebut di dalam galaksi. Pengamatan ini mendorong terciptanya postulat tentang struktur batang yang berputar pada pusat galaksi. Dengan teleskop radio yang ditingkatkan, gas hidrogen dapat juga dilacak pada galaksi-galaksi lain.
- Pada 1970, berdasarkan penelitian Vera Rubin terhadap kecepatan rotasi gas dalam galaksi, ditemukan bahwa total massa terlihat (bintang dan gas) tidak sesuai dengan kecepatan berputar gas tersebut. Masalah perputaran galaksi ini dikira dapat dijelaskan dengan adanya sejumlah besar materi gelap yang tak terlihat.
- Sejak tahun 1990-an, Teleskop Angkasa Hubble menghasilkan pengamatan yang lebih baik. Di antaranya, hasil pengamatan dengan Teleskop Hubble membuktikan bahwa materi gelap yang hilang dalam galaksi kita, pada dasarnya tidak mungkin hanya terdiri dari bintang-bintang redup atau kecil. Hubble Deep Field, sebuah foto dengan eksposur yang sangat panjang wilayah langit yang relatif kosong, memberikan bukti bahwa terdapat kira-kira 125 miliar galaksi di alam semesta.
- Peningkatan dalam teknologi pendeteksian spektrum-spektrum tak kasat mata (teleskop radio, kamera inframerah, dan teleskop sinar x) memungkinkan pendeteksian galaksi-galaksi lain yang tidak terdeteksi sebelumnya oleh teleskop Hubble. Secara khusus, survei galaksi dalam zona langka galaksi (wilayah langit yang terhalang oleh bima sakti) berhasil menunjukkan sejumlah galaksi baru.

